Book Review : Mockingjay – Suzanne Collins

Revolusi telah dimulai.
Dan Katniss Everdeen adalah mockingjay, simbol pemberontakan.

Dari dua review saya sebelumnya, saya belum menuliskan arti simbol gambar burung yang ada disampul buku, ya kan?

Nah, burung itu adalah mockingjay.
Merupakan spesies campuran dari burung Jabberjay dan Mockingbird.
Awalnya, Jabberjay adalah mutt burung mata-mata ciptaan Capitol yang dapat menirukan suara semirip mungkin dengan aslinya. Setelah pemberontakan usai, spesies burung ini akan dipunahkan, tapi tanpa diduga oleh Capitol, dialam liar burung jabberjay telah kawin silang dengan burung mockingbird sehingga muncul spesies baru bernama mockingjay.

Seperti jabberjay, mockingjay memiliki kemampuan untuk menirukan suara, hanya saja mereka mau menirukan lagu yang dinyanyikan oleh jenis suara tertentu. Lalu menyebarkan lagu tersebut kepada mockingjay yang lain sampai mockingjay dalam seluruh komunitas tersebut mengulangi lagu itu. Siulan mockingjay inilah yang dijadikan tanda Rue dan Katniss di buku pertama.

Distrik 12 tidak ada lagi. Capitol menghancurkannya.
Katniss selamat dalam pertarungan the Hunger Games dua kali, bersama para pemberontak dan orang-orang yang selamat, mereka ditampung di distrik 13. Distrik yang katanya telah dimusnahkan Capitol puluhan tahun yang lalu itu ternyata masih hidup, disana mereka hidup ratusan meter dibawah tanah dengan segala teknologinya. Presiden Coin, dari distrik 13, menginginkan Katniss menjalankan peran sebagai mockingjay, melakukan propo (iklan provokatif) yang ditayangkan dengan membajak siaran untuk ditayangkan dan bertujuan untuk mengangkat semangat distrik-distrik lainnya untuk dapat bersatu melawan Capitol. Tapi Capitol tidak tinggal diam dengan menyerang distrik-distrik yang memberontak. Banyak korban yang tewas dari dua pihak. Terlalu banyak korban yang jatuh berguguran, termasuk orang-orang yang disayangi Katniss…

image

Judul : Mockingjay
Penulis : Suzanne Collins
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Alih bahasa : Hetih Rusli
Cetakan ke14, 2014
Tebal 423 hal.

Dibuku ini, kita mendapatkan porsi Gale yang lebih banyak dari dua buku sebelumnya. Gale, well yeah, dia tipe pemburu, kuat dan tegas. Peeta, yang menjadi tawanan Capitol karena terlambat diselamatkan dalam Quarter Quell, agak sedikit menderita dan kehilangan kehangatan as Peeta used to be. I miss him.
Sepanjang buku ini saya mengkhawatirkan tokoh Peeta, saya menginginkan ia tetap hidup, sehat dan menjadi Peeta sediakala.

Tidak hanya Peeta yang menjadi labil karena siksaan Capitol, pemenang The Hunger Games lainnya seperti Finnick, Johanna dan tentu saja Katniss juga jadi agak ambigu dan mengesalkan dibuku ini. Mereka jadi agak sedikit rusak. Bukan rusak fisik, tapi mentalnya. But i think Suzanne Collins create them to be cant be fixed after the Hunger Games, Haymitch misalnya, bertahun-tahun ia gak menikmati kemenangannya, ia sendirian dan mengisi waktunya dengan mabuk-mabukkan untuk melupakan apa yang menghantui pikirannya. Bahkan Finnick yang terlihat mempesona dan dikelilingi wanita, dibalik itu semua, pemenang tetaplah pion dalam the Hunger Games.

Endingnya? Hmm sepertinya sesuai dengan yang saya inginkan.

“Sejujurnya nenek moyang kami sepertinya tidak terlalu bisa dibanggakan. Maksudku, lihatlah keadaan yang mereka tinggalkan untuk kami, dengan perang dan planet yang rusak ini. Jelas, mereka tidak peduli apa yang terjadi pada orang-orang yang lahir setelah mereka” (hal.96)

Reading Challenge : A Trilogy, checked.

Advertisements

Book Review : Catching Fire – Suzanne Collins

Keberanian Katniss yang mengancam bunuh diri bersama Peeta dengan menggunakan berry nightlock diarena, menyebabkan mereka berdua keluar menjadi pemenang pada the Hunger Games ke 74. Sebenarnya tindakan itu merupakan pembuktian Katniss dan Peeta bahwa mereka bukanlah hanya sekedar pion permainan Hunger Games dan Capitol, tapi ternyata tindakan tersebut diterima secara tersirat oleh masyarakat sebagai simbol dan membangkitkan semangat pemberontakan dibeberapa distrik.

Tahun ini adalah perayaan the Hunger Games yang ke 75 atau disebut dengan Quarter Quell, permainan the Hunger Games yang dibuat berbeda dan dirayakan setiap 25 tahun sekali. Setiap Quarter Quell memiliki peraturan yang berbeda-beda dan tanpa diduga Quarter Quell yang ketiga tahun ini mengharuskan tiap distrik mengirim 2 orang para pemenang the Hunger Games yang masih hidup untuk bertarung kembali.

“Pada perayaan yang ketujuh puluh lima, sebagai pengingat para pemberontak bahwa bahkan yang terkuat pun takkan bisa mengalahkan kekuatan Capitol, para peserta lelaki dan perempuan akan dipilih dari nama-nama pemenang yang masih hidup” (hal. 194)

Katniss tahu Peeta akan turun ke arena untuk menemani dan melindungi Katniss sebagai satu-satunya pemenang perempuan dari distrik 12. Tapi kali ini Katniss bertekad untuk melindungi Peeta dan membuatnya tetap hidup, walaupun harus mengorbankan nyawanya sendiri. Apalagi peserta Quartel Quell ketiga ini tidak bisa dianggap remeh karena mereka semua adalah pemenang dan sangat lihai membunuh. Haymitch hanya berpesan kepada Katniss agar dia tahu siapa sebenarnya musuhnya.

image

Judul : Catching Fire – Tersulut
Penulis : Suzanne Collins
Alih bahasa : Hetih Rusli
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke 14, Januari 2014
Tebal 420 hal

Buku kedua dari trilogi the Hunger Games ini tidak kalah seru dari buku pertamanya, walau kalo dibandingin ya, saya lebih suka buku pertamanya, lebih greget gimana gitu hhe.

Dengan tema utama yaitu perjuangan dan pengorbanan, di buku Catching Fire ini kita juga disuguhkan pertarungan batin Katniss dan menunjukkan lebih dalam mengenai sosok Katniss Everdeen, walaupun ia dianggap pahlawan dan simbol pemberontakan, ia tetaplah seorang perempuan yang rentan dan memiliki ketakutan-ketakutan dalam dirinya
Selain itu, ditunjukan bagaimana kegalauan Katniss dimana persahabatannya dengan Gale yang tidak sama lagi karena mereka menyadari bahwa mereka saling mencintai, tapi karena the Hunger Games ia harus terpaksa terlihat cinta mati pada Peeta.

Ahh Suzanne Collins memberi kita pilihan yang sulit. Gale vs Peeta, they both hot and kind and handsome and aaaaaaa~ ok, i choose Peeta, soalnya selesai baca Catching Fire sampe jam sebelas malem, malemnya saya langsung mimpiin Peeta *entahapa *abaikan.

Anyway, cant wait to read the last book!
Reading challenge : A book that became a movie, checked. About Catching Fire the movie and cast, you can read here

Book Review : Mari Lari – Ninit Yunita

Lari!
Kalo diinget-inget, udah lama banget diriku gak lari.
Yah kalo lari dari kenyataan sih sering, bikin langsing juga kok, tapi gak sehat, kelamaan jantung gak dijamin bisa selamat.

Lari itu banyak manfaatnya, olahraga murah dan mudah. Kekurangannya cuma satu, sering males kalo gak punya temen lari, lebih enakan run in packs deh beneran, kalo lari sendirian, ga bisa bersaing gitu, kalo cape ya istirahat sendiri ga ada yang semangatin atau ngejekin, ah nelangsa~ haha

Judul buku : Mari Lari
Penulis : Ninit Yunita
Penerbit : Gagas Media
Cetakan I, 2014
Tebal : 180 halaman

Adalah Rio, tokoh utama novel ini, merupakan anak dari ayah dan ibu mantan atlet lari, tapi berbeda dengan kedua orangtuanya yang disiplin dan berprestasi, Rio adalah seorang loser. Dia tidak pernah menyelesaikan apa yang ia mulai. Dari kecil, bahkan sampai dewasa. Hingga saat ia di dropout dari kuliahnya, Tio-sang ayah, marah besar dan mengusir Rio dari rumah.

Rio kemudian tinggal di basement showroom mobil milik sahabatnya, Bayu. Disitu pula, Rio bekerja sebagai sales yang mirisnya performance Rio gak bisa dikatakan bagus, hanya sedikit mobil yang bisa ia jual.

Everything just the same sampai Fitri, ibu Rio, meninggal karena kanker dan berpesan agar Rio dan Tio berdamai. Semua itu tidak mudah bagi Tio, ia belum dapat melupakan kekecewaannya terutama karena Rio tak pernah melakukan segala hal dengan serius.

Tidak lagi dia berani meminta sesuatu yang orangtua dapat banggakan dari anak. Tio hanya ingin melihat, setidaknya, sesuatu yang sang anak dapat banggakan untuk dirinya sendiri. (Hal. 44)

Lari menjadi bagian hidup Rio ketika Rio ingin menemani ayahnya di event Bromo Marathon dengan memakai nomor ibu. Sebagai anak atlet, Rio sama sekali gak atletik, dia harus berlatih keras untuk membuktikan ia mampu hingga ke garis finish, untungnya Rio bertemu dengan Anissa dan komunitas Indorunners, sehingga Rio dapat berlatih dan sharing tentang lari.

Kematian ibunya ini menjadi titik balik kehidupan Rio berikutnya. Rio kembali kerumah, kuliah lagi,  mengerjakan skripsinya, dan mencoba menjalin hubungan dengan ayahnya. Dengan kesibukan yang ia miliki, terutama lari, Rio seakan mendapatkan passion dan tujuan kembali untuk hidupnya, untuk pertama kalinya ia berusaha menyelesaikan apa yang telah ia mulai, membahagiakan orang yang ia sayang dan menyayanginya.

Overall buku ini menceritakan tentang bagaimana kita berproses dalam hidup, gak bisa instan atau malas-malasan because if we cant achieve anything in this life then we just get nothing, is nothing that u searching for in your life?
If its not, then go, run!

Run to your finish line 🙂

“Hidup itu seperti berlari maraton, tak ada pemberhentian dan selalu butuh perjuangan untuk sampai pada satu titik bernama impian”

image
*baru tahu ada versi filmnya juga 😀

Book Review : Sabtu bersama Bapak – Adhitya Mulya

Pertama kali baca judul buku ini mengingatkanku pada buku Mitch Albom – Tuesday with Morrie, one of my fav book, a heartwarming book that can touch ur life and soul. Tapi kita disini bukan mau ngereview buku Albom ya, i am here for Kang Adhit, saya selalu jatuh cinta pada tulisan dia, even cuma tulisan di blog, luv yu kang hihi 😀

image

Anyhoo, this book makes my day.

Menceritakan tentang keluarga Garnida, ada Gunawan Garnida – sang bapak, Itje Garnida – ibu, dan dua anak mereka, Satya dan Cakra.
Si bapak menderita kanker dan divonis hidupnya hanya tinggal satu tahun lagi, bapak sadar waktu yang pendek itu harus ia manfaatkan agar berguna untuk orang yang ia sayangi, terutama anak-anaknya yang masih berusia belia. Bapak kemudian mempunyai ide bagaimana ia akan selalu hadir dalam kehidupan anak-anaknya, yaitu dengan merekam pesan video, dengan bantuan sang ibu, ia merekam ratusan video yang kelak akan menemani langkah hidup kedua anaknya sampai dewasa.

Video-video bapak diputarkan secara berkala oleh ibu pada hari Sabtu dan pada momen tertentu, saat-saat yang tak akan pernah dilewatkan oleh Satya dan Cakra, Sabtu bersama Bapak.

“Ada orang yang merugikan orang lain.
Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka.
Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri.
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri.
Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya.
Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain…
Bapak tidak hidup cukup lama untuk menjadi golongan terakhir.
Jika situasi memungkinkan, semoga kalian dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dari Bapak” (hal. 86)

Satya, si sulung, bekerja di salah satu kilang minyak, telah memiliki seorang istri, Rissa dan tiga anak, Ryan, Kumi dan Dani. Karena terbiasa menjadi sosok yang tough aka cadas kalo bahasa Kang Adhit dibuku ini, Satya lebih tumbuh menjadi seseorang yang emosional, sayangnya sifat itu terbawa untuk keluarganya. Anak-anak menjadi takut dan hubungan dengan istrinya menjadi merenggang. Sampai istrinya mengirimkan email berisi pesan supaya Satya tidak usah pulang kerumah kalau masih sibuk marah dan menyalahkan anak-anak dan istrinya.

“Capek Kang.
We all love you.
But the question is, do you love us?
Mendingan Kakang jangan pulang kerumah dulu.
Sampai Kakang bisa menemukan sesuatu yang dapat Kakang sayangi dari saya dan anak-anak” (hal. 28)

Thank God, bukannya makin menjadi dan emosi, email itu malah mengganggu pikiran Satya, dan menyadari bahwa selama ini ia salah sikap menjadi seorang bapak dan suami yang baik untuk keluarganya. Dan pada saat-saat itulah, video bapak kembali memotivasi dan membimbing Satya to be a better father and husband.

Disisi lain, ada kehidupan Cakra, si bungsu. Karier sukses, udah punya rumah sendiri, tapi masih jomblo. Bukan, bukannya gak laku, tapi Cakra adalah seorang well planning. Ia merencanakan hidupnya agar ia kemudian tidak menyusahkan anak istrinya.
Jadi ia menyiapkan segala hal dalam dirinya terlebih dahulu, sebelum kemudian melangkah… mencari jodoh.

“Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat.
Iya sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat” (hal.17)

Rasanya saya pengen menquote seluruh kata-kata di buku ini karena i just cant pick which one is best of all. This book is a whole package! Ada pesan parenting, planning, bagaimana membina rumah tangga, even dalam kisah mencari cintanya Cakra.

I love love this book so much.
Makasi yah Kang Adhit sekali lagi udah nulis buku yang very heartwarming, very touching and very annoying karena bikin ngakak sekaligus pengen nangis. Highly recommended buat kamu yang udah jadi bapak dan mungkin besok bakal jadi bapak, yang jomblo dan mungkin besok bakal menikah. This book is for us.

Judul : Sabtu bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2014
Tebal : 277 halaman

Book Review : Looking for Alaska – John Green

Hari Minggu kemarin, @andinaecha ngajak read along buku John Green – Looking for Alaska, jadi deh akhirnya saya ngebut baca buku ini seharian 😀

Looking for Alaska adalah buku kedua John Green yang saya baca, buku pertamanya The Fault in Our Star baguuus banget dan bikin sedih T_T Sejak saat itu saya jadi ngefans sama tulisan om Green dan mulai mengkoleksi bukunya, masih ada The Abundance of Kathrine dan Papertowns yang udah ngantri buat dibaca, hope i can make the reviews then, anyhoo back to Looking for Alaska, my recent review ya..

image

Judul : Looking for Alaska – Mencari Alaska
Penulis :John Green
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 286 halaman

Buku ini dibuka pada Seratus Tiga Puluh Enam Hari Sebelum, merupakan hari ketika Miles Halter memutuskan untuk pindah dari SMA-nya di Florida ke sekolah asrama Culver Creek di Alabama. Alasan Miles pindah sekolah adalah karena ia terinspirasi kata-kata terakhir seorang penyair Francois Rabelais – untuk mencari kemungkinan besar (the great perhaps).

Di Culver Creek, Miles sekamar dengan Chip Martin aka Kolonel dan Miles pun memiliki nama julukan ‘Pudge’ atau lemak tubuh, panggilan ironi untuk Miles karena sebenarnya tubuh Miles malah kurus kering 😀 Kolonel memiliki teman baik bernama Takumi Hikokito – seorang pemuda keturunan Jepang yang jago ngerap dan Alaska Young – gadis pecinta buku yang cantik, pintar, moody, cuek dan jahil selain itu Alaska is kinda wild type of girl, she’s  dealing with cigarrete and alcohol bahkan ia menjual rokok dan alkohol tersebut secara ilegal di asrama. Ada juga Lara Buterskaya, gadis asal Romania yang dijodohkan Alaska untuk Pudge. Bersama-sama mereka melalui hari-hari seru dan penuh kejahilan dan keisengan ala Alaska. Untuk pertama kalinya, Pudge mencoba rokok, minum alkohol dan berpacaran. Tapi walaupun Pudge dekat dengan Lara, Pudge tetap gak bisa menahan diri untuk gak jatuh hati pada Alaska. Alaska tahu, tapi dia sendiri juga sudah punya pacar, sampai pada suatu malam, Kolonel, Pudge dan Alaska mabuk, mereka melakukan permainan Truth or Dare dan Alaska menantang Pudge untuk menciumnya, ow that’s was he’s waiting for a long time! Tapi ciuman mereka berakhir cepat karena Alaska mengantuk dan Alaska bilang “kita lanjutkan lagi kapan-kapan”. Belum lama mereka tertidur, tengah malamnya kamar Pudge dan Kolonel digedor oleh Alaska yang histeris dan butuh bantuan Pudge dan Kolonel untuk mengalihkan perhatian si Elang, pengawas sekolah, agar Alaska dapat menuju mobilnya dan pergi, kemana? Pudge dan Kolonel sendiri tidak tahu dan mereka tidak berusaha mencegah Alaska.

And the next day, mereka mendapatkan kabar mengejutkan bahwa Alaska tewas seketika dalam kecelakaan semalam. Pudge, Kolonel, dan Takumi  sangat kaget dan gak percaya dengan berita itu, hari-hari mereka setelah kematian Alaska pun penuh dengan kebingungan dan kesedihan, terlebih mereka merasa bertanggung jawab telah membiarkan Alaska ‘pergi’ dan berusaha mencari tahu kemanakah tujuan Alaska malam itu.

The morals of the story :
1. Jangan mengemudi ketika mabuk
2. Jangan mengemudi ketika emosi
3. Jangan mengemudi ketika mengantuk
4. Jangan terburu-buru, pikirkan dengan tenang dan tunggulah.

Pudge sangat menyukai kata-kata terakhir orang terkenal sebelum mereka meninggal, selain kata-kata Francois Rabelais tentang Kemungkinan Besar, ada satu kata-kata lain yang menjadi perbincangan antara Alaska dan Pudge yaitu kata-kata terakhir Simon Bolivar “bagaimana caraku keluar dari labirin ini!”

Saya suka banget dengan buku ini, beda dengan The Fault in Our Star yang ‘baik-baik’, buku Looking for Alaska ini lebih dipenuhi dengan keseruan ala remaja. Another great book from John Green!

image

Book Review : Yang Galau Yang Meracau – Fahd Djibran

Galau? Beberapa tahun terakhir kata itu menjadi sangat populer, terlebih dengan adanya media sosial, fenomena galau sepertinya meracuni hampir setiap orang. Ada yang marah, sedih, senang, berdoa bahkan mengumpat di akun sosialnya.
Membaca timeline facebook, twitter, path dan medsos lainnya, kita seakan membaca pikiran dan kehidupan orang-orang disekitar, alangkah banyak racauan yang ada di semesta ini, untung saja manusia diciptakan tidak dapat membaca pikiran, jika tidak bayangkan betapa banyak suara yang berdengung, bagaimana kita tak dapat menikmati kesunyian dan mendengarkan kata hati kita sendiri jika kita terus menerus dapat mendengarkan pikiran orang lain?

image

Galau itu manusiawi, saya juga pernah dan sampai saat ini sering galau, hanya saja seiring umur kita belajar bagaimana agar kita dapat berjuang mengatasi rasa galau itu bukan? Seperti yang dituliskan Fahd Djibran dalam bukunya, Yang Galau Yang Meracau terbitan Kurniaesa Publishing ini, saat galau kita hanya perlu saat-saat sendiri, melihat kedalam diri, berbicara dengan diri sendiri – secara lebih bebas dan lebih jujur.

Buku ini sebenarnya bukanlah sebuah novel tetapi… apa ya? Semacam tulisan yang berfokus pada efek pikiran dan perasaan yang akan diterima pembacanya. Buku ini sama seperti buku karangan Fahd Djibran lainnya yang penuh dengan tulisan mengenai kehidupan, filsafat, dan spiritualitas.

Buku Yang Galau Yang Meracau ini terdiri dari 3 tema galau meliputi Setan, Cinta dan Tuhan.

Pada tulisan berjudul Mabuk, Setan mentertawai manusia yang seakan tidak menghargai hadiah yang diberikan Tuhan. Hadiah? Iya bukankah seluruh hidup kita adalah hadiah dari Tuhan? Jadi meskipun Tuhan berbaik hati, kita tetap berhutang budi padaNya untuk mengikuti segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Ada juga tulisan berjudul Hidup yang Sempurna. Benarkah kesempurnaan adalah tentang segala hal yang baik? Fahd Djibran menuliskan kesempurnaan adalah ketiadaan sekaligus keberadaan, kebahagiaan sekaligus kesedihan, hitam sekaligus putih. Kesempurnaan adalah konfigurasi apik dari berbagai hal yang berlawanan.
Saya setuju konsep kesempurnaan ini, kesempurnaan bukanlah hal agung dan mulia, tetapi sempurna adalah melengkapi kelebihan dan kekurangan dalam hidup kita. Kita tidak akan dapat merasakan bahagia jika kita tidak tahu apa itu kesedihan. Right?

Kita selalu menyalahkan Setan sebagai makhluk jahat yang membawa keburukan dalam hidup kita,  tapi pernahkah kamu berpikir bahwa Setan memang diciptakan Tuhan untuk menggoda kita? Dan manusialah yang diberikan akal sebagai makhluk paling sempurna ciptaan Tuhan, untuk dapat memilih apa yang dapat kita lakukan dalam setiap langkah hidup kita, memilih baik atau buruk, kebaikan atau kejahatan, kebohongan atau kejujuran, pengkhianatan atau kesetiaan. Apakah kita berani melawan rayuan manis Setan?

Pada bab 2 Cinta, saya menyukai tulisan berjudul Ziarah Ingatan. Kita bisa membuang ingatan, tapi kita tak bisa menolak kenangan. Sebab tak semua yang kita ingat akan kita kenang, tetapi semua yang kita kenang tersimpan baik dalam ingatan. Kadang yang paling sering kita lupakan justru kenangan-kenangan indah bersama mereka yang masih hidup. Before its too late~

Pada bab 3 Tuhan, kita membaca dan diajak merenungi makna Tuhan bagi hidup kita. Untuk tidak mempertanyakan siapakah Tuhan, apakah ia benar ada? Dalam tulisan berjudul Sesa(a)t, Fahd menuliskan secara panjang lebar pemikiran mengenai makna Tuhan dari berbagai sumber, ia membahas tentang Tuhan dari pandangan Muslim, ateis, agnostik, Karl Max, dan lainnya.

Mungkin agak pusing ya membaca buku ini? Katanya tentang galau? Kok dibuat jadi rumit gini? Well kalau kamu pengen cari cerita galau biasa, sebaiknya jangan baca buku tulisannya Fahd Djibran deh, yang ada kamu bakal mabuk, disentil dan ditampar oleh tulisannya. Selamat membaca 🙂

Judul : Yang Galau Yang Meracau – Curhat (Tuan) Setan
Penulis : Fahd Djibran
Penerbit : Kurniaesa Publishing
Cetakan : I, Juni 2011
Tebal : 226 halaman.

Book Review : My Sister’s Keeper – Jodi Picoult

Akhirnya berjodoh juga dengan buku ini di Pesta Buku Gramedia bulan Juni 2013 ini. Diskon 40% pula, what a treasure. Yeay!

Sudah lama kucari buku My Sister’s Keeper karya Jodi Picoult ini, maka ketika mataku beradu pandang dengannya, lekas-lekas kubawa pulang dan kudalami kisahnya dengan hati yang berbunga.

Tapi hati berbungaku terasa disirami hujan ketika membaca buku ini, basaah hiks, this is a very sad story~

image

Judul  : My Sister’s Keeper – Penyelamat Kakakku
Pengarang : Jodi Picoult
Penerbit  : Gramedia
Tebal  : 523 halaman
Cetakan kedelapan, Oktober 2010

Bercerita tentang tokoh utama novel ini yang bernama Anna Fitzgerald. Anna sengaja dibuat melalui program bayi tabung oleh orang tuanya. Latar belakang  mengapa orangtua Anna memutuskan untuk memiliki anak dari program bayi tabung adalah untuk Kate, putri mereka  yang menderita penyakit leukimia tipe APL (salah satu yang mematikan dan bisa memicu terjadinya komplikasi dengan penyakit lain, atau masalah dengan organ-organ tubuh yang penting). Dengan bantuan teknologi medis, Anna dibuat dengan rekayasa genetik sedemikian rupa sehingga nantinya akan memiliki kecocokan struktur sumsum tulang belakang yang nyaris serupa dengan kakaknya.

Agar Kate bisa terus hiduplah Anna dilahirkan kedunia, Anna dirancang menjadi donor seumur hidup untuk Kate. Bahkan beberapa jam setelah lahir, Anna sudah menyumbangkan sel darah tali pusat untuk kakaknya, Kate. Kemudian Anna juga menjalani puluhan operasi, transfusi darah, dan suntikan untuk Kate. Dan ketika Kate didiagnosa gagal ginjal, Ibu meminta Anna menyumbangkan ginjalnya untuk Kate yang nyaris sekarat.

Hidup Anna adalah untuk Kate. Anna tak bisa menjalani hidupnya sendiri! Orangtuanya mengabaikan perasaan dan hak hidup Anna. Terlebih saat Anna beranjak remaja, timbul keinginan Anna untuk memiliki kebebasan dan hak atas tubuhnya sendiri. Ia ingin melanjutkan hidupnya sebagai manusia. Tidak hanya menjadi penyuplai kehidupan kakaknya!

Anna lalu membuat keputusan besar yang menimbulkan perpecahan dalam keluarganya. Bersama pengacara bernama Campbell Alexander, Anna menuntut kedua orangtuanya karena telah memanfaatkan hidupnya untuk keperluan donor.
Di pengadilan, Anna menjelaskan semuanya beserta bukti keterangan rumah sakit tentang keterangan donor yang telah dilakukannya untuk Kate, kakaknya. Hakim pun memutuskan Anna memenangkan penggugatan tersebut , akhirnya Anna memperoleh hak atas tubuhnya sendiri!

Tapi apa yang terjadi setelah kemenangan Anna ini? Apakah Anna akhirnya bahagia? Bagaimana dengan hidup Kate tanpa donor dari Anna? Bagaimana perasaan orangtua Anna dan Kate?

I am telling u, kita akan menemui ending yang menyedihkan, tragis, heart-breaking. Lebih baik kamu baca bukunya, ya 🙂

Selain kisah mengenai Anna, Kate dan keluarganya, penulis menyuguhkan kita   mengenai kesehatan, hukum, astronomi, sampai filosopi tentang api yang dituliskan dengan cerdas dan mudah dimengerti.

Dalam penulisan cerita, buku ini ditulis dengan sudut pandang tokoh yang bervariasi. Meskipun begitu, membaca buku ini tidak membingungkan kita sebagai pembacanya, malah membuka cara pikir kita akan sudut pandang orang lain.
Buku ini mengajarkan kita artinya orangtua yang baik, saudara yang baik dan orang yang baik. Bagaimana keputusan dibuat dan berpengaruh kepada hidup orang lain.

Oh ya, novel ini juga telah difilmkan pada tahun 2009, diperankan antara lain oleh Cameron Diaz dan Sofia Vassilieva.

image