Book Review : Papertowns – John Green

image

Judul : Papertowns – Kota Kertas
Penulis : John Green
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, 2014
Tebal 360 halaman

Quentin Jacobsen sudah jatuh cinta pada Margo Roth Spiegelman sejak mereka masih kecil. Mereka bertetangga, bersahabat dan bermain bersama sampai peristiwa penemuan mayat di taman.

Tumbuh remaja, Quentin menjadi cowok nerd dan Margo menjadi cewek populer, hubungan mereka semakin menjauh karena perbedaan status tersebut. Hingga pada suatu malam, Margo menyelinap masuk kejendela Q, meminta bantuan Q untuk menemani menyelesaikan misinya. Q tentu saja gak bisa menolak permintaan Margo. Q merasakan malam yang menakjubkan bersama Margo, ia menjadi ingin lebih terbuka dan berharap dapat memulai kembali hubungan ‘pertemanan’ dengan gadis tersebut.

Tapi esok paginya, Margo menghilang.
Berdasarkan laporan orangtua Margo, Margo memang suka sekali menghilang, meninggalkan petunjuk kemudian pulang kembali beberapa hari kemudian. Hal itulah yang membuat Q berpikir bahwa mungkin saja Margo sengaja menghilang untuk Q temukan, apalagi Q menemukan beberapa petunjuk dari Margo yang ditujukan untuk dirinya. Bersama teman-temannya, Q memulai petualangan untuk menemukan Margo. Namun semakin jauh Q melangkah, Q semakin gak mengerti Margo sebenarnya.

Btw, another good book from Mr. Green, saya ngerasa buku ini adalah bagian lain dari buku Looking For Alaska. Karakter Alaska dan Margo Roth, sangat mirip. Rebel, populer tapi pintar. Karakter Q juga mirip banget dengan Pudge, sama sama cowok nerd dan geek. Walaupun ada kesamaan tersebut, saya tetap sangat menikmati buku ini, terlarut dalam kelucuan, keseruan, persahabatan dan pencarian jati diri yang tersirat didalamnya. Bab favoritku adalah bagian ketiga, Wadah, adalah saat Q bersama teman-temannya naik minivan, hanya pake toga wisuda, ngebut mencari lokasi Margo.

“Kau tahu apa masalahmu, Quentin? Kau selalu mengharapkan orang lain tidak menjadi diri mereka sendiri. Maksudku, aku bisa saja membencimu karena sangat jam karet dan tidak pernah tertarik pada apa pun selain Margo Roth Spiegelman, dan karena, misalnya, tidak pernah menanyaiku tentang pacarku- tapi aku tak peduli, man, soalnya kau adalah kau” (hal. 223)

image

Ga sabar nonton film layar lebarnya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s