Be Positive!

Saya gak biasa curhat. Apalagi kalo gak ditanya, ya saya bakal diem aja, simpen sendiri mikir sendiri meledak sendiri iris hati sendiri 😀
Mungkin kamu pikir itu bakal bikin saya jadi gila, ah kamu salah, ngapain? Rugi dong. Hhe.

Saya memang gak vokal, gak terbiasa mengungkapkan isi hati dan penyendiri.
Menurut saya, kesedihan dan kemarahan gak oke buat dishare, apalagi dishare ke media sosial sampai semua orang bisa baca. Hmm, big no, ya. Kesedihan dan kemarahan itu emosi sesaat yang bikin kita jadi bodoh, karena terkadang tindakan dan kata-kata kita yang keluar menjadi tidak rasional dan cenderung bisa menyakiti. Menyakiti diri kita atau orang lain.

Lalu, gunanya apa?
Gak ada kan?
Makanya saya gak curhat.
Kalopun saya curhat, saya lebih suka yang terselubung :p
Lagian kalo kata Chrisye mah ‘badai pasti berlalu’, Tuhan kasih masalah sesuai kemampuan umatnya kok, kalo kita ngerasa gak mampu, yakin aja kita mampu, Tuhan tahu, kita cuma disuruh menaikan level kemampuan kita.

Tapi, dunia pasti bakal sepi ya kalo ga ada curhatan? Dinding facebook, wall twitter dan page di path bakal gak guna. Walau saya gak suka curhat dan buat update status, saya suka kok baca dan dengar masalah orang, karena dari sana saya bisa belajar memahami dan bersyukur atas masalah yang saya punya, bahwa saya gak pantas untuk mengeluh, we will always find a way. Just keep positive 🙂 

Run Nina Run

Saya pernah menghitung usia biologis via realage, perhitungan realage itu didapat dari kuisioner mengenai health, feeling, diet dan fitness. Hasilnya adalah usia biologis saya 33, which is 3,8 older than my age.

Wah bagaimana mau tetap ‘muda’ kalo usia biologis aja boros?

Meningkatkan kualitas hidup adalah one of my long term next project, umur boleh aja tetap bertambah tapi fisik saya harus tetap muda. Saya memperhatikan bahwa kebanyakan orang menjadi lebih lemah saat mencapai usia lanjut/pensiun dan menjalani kehidupan kesehatan yang terus menurun hingga akhirnya kehilangan semangat hidup.

Oleh karena itu bagaimana supaya tetap sehat, umur panjang, tetap produktif dan awet muda? Menurut Dr. Mehmet Oz dan Dr Michael F. Roizen di buku Staying Young, untuk mewujudkan harapan tersebut, kita dapat menerapkan cara alami yang dilakukan dengan melatih diri untuk menghindari hal-hal negatif dan melakukan hal-hal positif bagi kesehatan seperti mengendalikan marah dan stres, tidak merokok, tidur nyenyak, menghindari kontak dengan zat berbahaya, menjaga pola makan sehat serta melakukan aktifitas fisik secara teratur.

Sebagai seorang pekerja kantoran yang mendedikasikan hampir setengah harinya dikursi, i guess i really need to work my butt out off my chair right? saya harus meningkatkan aktifitas fisik terutama untuk kesehatan jantung dan paru-paru. Dan berolahraga lari segera menjadi pilihan saya karena merupakan cara yang paling mudah dan paling murah untuk dilakukan. What we just need are sepasang sepatu lari yang tepat, baju katun yang comfy dan bangun pagi.

image

Saya suka sekali lari, inget gak sensasi menyenangkan waktu kita bermain kejar-kejaran saat kita kecil? Detak jantung berpacu kencang dan sesuatu menggelitik saraf kita. Rasanya seperti jatuh cinta dan ketika melihat dia dari jauh, deg deg an. Hihi. Ketika kita merasa happy, otomatis stres berkurang. Kelebihan lainnya dari lari seperti untuk menghindari sakit jantung, stroke, serta diabetes, menurunkan tekanan darah, menambah jumlah kolesterol baik, dan meningkatkan imunitas tubuh terhadap flu dan virus lainnya.

Saya baru memulai kembali aktifitas lari setelah hmm 4 tahun tidak lari? Rasanya langkah berat banget dan napas saya tidak panjang, baru nyadar kalo stamina drop banget -_- nah kalo ketemu situasi ky gni, pas lari jangan terlalu di push, do it at your comfortable pace, jangan dipaksa and always listen to your body. misalnya kalo mau maksa oke-oke aja, asal tau kalo badannya masih mampu. kalo gak mampu, mendingan stop dan istirahat.

anyway saya berharap saya bisa terus konsisten untuk terus berolahraga dan meningkatkan waktu latihannya. Fighting!

Book Review : Habiskan Saja Gajimu – Ahmad Gozali

Money money money, easy come easy go.
Saya sering banget dengar keluhan kalo pemasukan terlalu sedikit, kebutuhan banyak, pokoknya ky serba kekurangan melulu hidupnya. Hh.

Siapa sih yang gak bermasalah dengan uang?
Kamu kamu kamu, semua orang didunia dan termasuk saya juga tentunya. Tapi ya saya gak suka ngeluhin kekurangan, kalo gak mampu ya gak mesti harus maksain mampu kan? Apalagi harus berhutang. Dalam kamus saya, pilihan berhutang ada didaftar terakhir yang harus dilakukan. Kalo mau sesuatu ya nabung, kalo gak bisa nabung ya jangan kepengen :p

Well, ketika akhirnya harus berhutang, kamu harus mengingat rulesnya.
1. Jangan berhutang tanpa perhitungan.
2. Jangan sampai hutang hanya membawa masalah.
3. Ketika kita berhutang, otomatis pendapatan bersih kita adalah jumlah setelah dipotong tagihan hutang. Supaya gak susah, maka gaya hidup harus dikurangi.
Yang paling baik dilakukan adalah mau uang kita lagi banyak atau sedikit, miliki gaya hidup yang sederhana aja. Jadi gak perlu susah-susah adaptasi.
4. Ketika harus berhutang banyak, ingatlah hutang itu harus digunakan untuk keperluan produktif, bukan konsumtif.

Eimm, saya memang bukan pakar keuangan, rules diatas hanya buatan saya karena saya suka menabung dan gak terbiasa berhutang, walaupun begitu, dalam beberapa tahun terakhir perencanaan tabungan saya bisa dikatakan gagal karena ada perbedaan pendapat antara saya dan suami. He always said kalo nabung itu adalah uang sisa, sedangkan menurut saya nabung itu harus diawal, sisanya baru dibelanjakan. Dan tabungan itu anggap saja gak ada biar gak tergoda dibelanjain, its only exist ketika kita akan membutuhkannya. Tapi kalo mau anggap semua hal urgent, ya tentu aja kita gak akan punya tabungan. Karena nurut, akhirnya there’s nothing left to save.

Dilema ya, antara nurut dan konsekuensinya malah berasa miskin? Iya.

image

Judul buku : Habiskan Saja Gajimu
Penulis : Ahmad Gozali
Penerbit : TransMedia
Tebal : 174 hal.

Lalu ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, saya melihat buku ini. Buku berjudul ‘Habiskan Saja Gajimu’ karya Ahmad Gozali ini sangat provokatif, gimana gak? Saya selalu pengen uang gaji saya gak habis supaya ada yang disave, nah penulis ini malah nyuruh diabisin aja. Daripada ‘kehabisan’ uang setiap bulan, kenapa tidak sekalian saja kita ‘habiskan’? Begitu katanya.

Karena kalo mau milih mana yang lebih mudah dan menyenangkan untuk dilakukan? A. Menyisakan uang dan B. Menghabiskan uang.

Deep down inside our heart menjawab B. Ya kan?
Pada dasarnya, uang diciptakan sebagai alat pembayaran. Jadi itulah kenapa kita seneng banget belanja daripada simpen-simpen uang.

Makanya sebagian besar dari kita perlu pengaturan prioritas pengeluaran agar keuangan lebih terkontrol dengan baik. Gimana caranya?

Habiskan uangmu/gajimu dijalan yang benar!
Ada dua golden rules dalam menghabiskan uang dijalan yang benar.
1. Pay your God first.
2. Saving dulu, baru shopping.
Ikuti kedua prinsip dasar ini agar cashflow kita lebih sehat.

Pengeluaran sesuai dengan urutan menghabiskan, yaitu bayar zakat, cicilan utang, saving baru shopping. Diantara anggaran biaya hidup, urutkan mulai dari yang fixed sampai yang flexible.

Membaca buku ini seakan saya mendapatkan pembenaran dan pencerahan. Saving adalah hak di masa depan, menabung bukanlah menyisakan (di belakang) uang bulanan, melainkan menyisihkan (di awal) dan mengalokasikan ke dalam produk investasi sesuai dengan program investasi yang kita miliki.

Saving di awal is kinda easy for me karena pada dasarnya saya suka menabung dan gak suka punya saldo 0 hhe, yang belum adalah memiliki program investasi, karena sebagai seorang pegawai, otak saya ini terbiasa nerima dan gak kreatif. Sepertinya saya harus mulai membaca-baca mengenai program investasi seperti persiapan dana pendidikan anak, dana pensiun dan lainnya. Saya ingin punya masa depan. Saya gak ingin uang yang ada hanya habis dimasa ini, tapi dimasa tua saya kesusahan.

Wish me luck and wish us luck!

AADC 2014

Sebagai remaja awal tahun 2000an, aku termasuk yang kena pesona Rangga (Nicholas Saputra) dan kemarin siang begitu dapet pesan line tentang AADC 2014 yang videonya bisa ditonton di youtube, tentu aja aku exciting banget.

image

image

Bener deh, begitu liat muka Rangga, hati berasa bergetar ahaha *superlebay *abaikan.

Dan begitu ditonton video berdurasi 10 menit 24 detik itu,
Aku agak gemes juga.
Selain karena berasa efek ‘i want more Rangga’
Ternyata oh ternyata…
Si Rangga ini yah, masih aja sok cool sok jaim.
Jadi dari 2002 sampe 2014, Rangga gak ngasih kabar ke Cinta?
Jadi ending AADC tempo hari, kissing di airport is just sad ending, Rangga tetep keluar negeri and sayin goodbye? Aku pikir mereka jadian and walo LDR mereka happy ever after!
Dang, tahun 2000an itu udah ada loh fasilitas internet, chatting dan handphone.
Jadi seharusnya, Rangga dan Cinta masih bisa komunikasi.
Gak harus nunggu sampe 12 tahun kemudian dan Rangga baru nyari Cinta via aplikasi Alumni di Line.
Dan itu pun juga karena kebetulan Rangga bisa pulang ke Jakarta dan kepengen ketemu Cinta.

Argh Rangggaaaaaaaaa…
Berasa pengen cubit cubit pipi Nicholas Saputra tauuuu.. haha

PS : cowo ala Rangga yang sok cool, judes, and demen PHP itu sooo last year, sekarang cowo yang didemenin cewe tuh yang humoris, charming dan perhatian. #efekAADC2014

You can watch Ada Apa Dengan Cinta – Mini Drama AADC 2014

(Rangga)
Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu.
Karena cinta, waktu terbagi dua
Denganmu dan rindu untuk membalik masa
Detik tidak pernah melangkah mundur tapi kertas putih itu selalu ada

(Cinta)
Waktu tidak pernah berjalan mundur
Dan hari tidak pernah terulang
Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru

(Rangga) Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab

(Rangga dan Cinta) Love, Life, Line

 + Makasi Line for this AADC’s reuninya +

 

 

Book Review : Replay – Ken Grimwood

Judul : Replay
Pengarang : Ken Grimwood
Penerbit : PT. UFUK Publishing Group
Cetakan I, Juli 2010
Tebal 532 halaman

image

Adalah Jeff Winston, ia meninggal di usia 43 tahun pada tanggal 18 Oktober 1988 karena serangan jantung saat ia berada dikantornya. Namun Jeff tersadar dan terbangun, anehnya ia terbangun dikamar asrama semasa kuliah tahun pertama di Emory, ia berada di tahun 1963 saat ia berusia 18 tahun. Apakah cuma mimpi? Tidak, ia sudah menjalani usia 18 tahunnya bukan? Kali ini Jeff serasa diberi kesempatan kedua dan berkat ingatan dikehidupannya terdahulu, Jeff menggunakan informasi apa yang akan terjadi dimasa datang, terutama mengenai pertandingan olahraga. Jeff muda memasang taruhan dan menang besar, hingga ia dapat mandiri secara finansial dan membuka perusahaan investasi miliknya sendiri, Future Inc.
Tapi ketika ia berada ditanggal 18 Oktober 1988 di jam menit dan detik yang sama dikehidupannya terdahulu, Jeff kembali meninggal. Begitu terus berulang-ulang, dalam setiap kehidupannya Jeff mengambil jalan yang berbeda, termasuk dalam kehidupan cintanya, ia beberapa kali jatuh cinta dan kehilangan orang yang dicintainya.

Ditengah kehidupan yang berulang itu, Jeff mendapati satu kejanggalan, sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam 3 kali kehidupan sebelumnya, dari sanalah akhirnya Jeff bertemu dengan seorang replayer lainnya, Pamela, yang membuat mereka berusaha mencari replayer lain dan kemudian mereka menyadari bahwa adanya pengurangan waktu siklus kehidupan mereka yang berulang.

Novel terbaik World Fantasy Award tahun 1988 ini telah diterbitkan dalam sebelas bahasa adalah buku yang sangat mengesankan, walau cukup tebal dengan 532 halaman, plot dan twist kisah dalam buku Replay ini begitu mengalir dan begitu menarik untuk dibaca sampai selesai, kita dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi dalam kehidupan jeff berikutnya setelah ia meninggal?

Saya selalu menyukai tema perjalanan waktu dan kehidupan paralel. Seperti buku-buku sebelumnya yang sudah saya baca diantaranya The Time Keeper, the Joshua’s Files dan Time Traveller’s Wife, buku Replay karangan Ken Grimwood ini secara garis besar memiliki tema serupa. Disini, Jeff Winston seperti menjalani kehidupan paralel, dimana ia berpindah dari kehidupan satu ke kehidupan lainnya. Dan layaknya butterfly effects, satu gerakan kecil dimasa lalu dapat mengubah kejadian besar dimasa depan. Setelah perubahan tersebut, segala sesuatu di alam semesta paralel yang baru akan benar-benar konsisten dengan dirinya sendiri. Begitulah yang terjadi dalam setiap kehidupan berulang Jeff karena ia selalu membuat keputusan yang berbeda dalam tiap kehidupan paralelnya.

Pernahkah kamu berpikir tentang kehidupan yang mungkin berbeda jika kamu memilih jalan hidup yang berbeda? Pernahkan kamu berpikir untuk melakukan suatu keputusan dalam pilihan yang tidak kamu ambil? Bagaimana jika kita dapat mengulang hidup kita disatu titik tertentu? Bagaimanakah kehidupan kita itu? What if, what if, what if..

Movie Review : Let Me In

Film ini bertemakan persahabatan vampire dan manusia. Well, vampire? Actually i feel so tired about this vampire things, let me count em. Twilight, Vampire Diaries, Interview with the Vampire, Blade, and many more. Tapi kalo disuruh pilih nonton horor luar atau horor lokal, aku pasti langsung pilih horor luar! Horor luar, ga nakutin cuma ngagetin, kalo horor lokal, duh itu ngebayangin pocong kuntilanak dan sebangsanya aja udah bisa bikin saya ga mau ditinggal sendirian, ke kamar mandi parno, kebelakang parno, auuuooo

Jadi, apa spesialnya film Let Me In ini? Apalagi di film ini kita gak nemuin vampire ganteng seksi penghisap darah, karena difilm ini kedua tokoh utamanya adalah anak kecil berumur 12 tahun dan seorang vampire remaja.

image

Owen (Kodi Smit-McPhee) adalah anak remaja canggung penyendiri, disekolah ia sering di bully oleh teman-temannya, hingga Owen sering menghabiskan waktunya dengan berfantasi untuk membalas dendam kepada mereka yang suka menyiksanya. Sampai suatu hari, Owen mempunyai tetangga baru, Abby (Chloe Moretz), gadis kecil aneh yang suka berkeliaran tanpa menggunakan alas kaki walaupun diluar dingin dan penuh salju. Hubungan Owen dan Abby terjalin unik melalui percakapan singkat dimalam hari dan permainan kubus rubik. Bahkan perasaan Owen tak berubah ketika tidak sengaja mengetahui siapa Abby sebenarnya.

My best scene difilm ini adalah scene saat Owen berada dikolam renang dan dikerjai oleh pembullynya. Kemudian Abby datang dan membalas mereka, darah dimana-mana. Dang, unforgetable scene banget. Sangat sadis dan artistik menurutku.

Selain kesadisan yang ditampilkan di film Let Me In ini menempatkan sosok Abby tidak hanya sebagai vampire tetapi juga kita dapat melihat sisi humanis Abby sebagai seorang gadis kecil yang juga membutuhkan kasih sayang.  | Are you OLD?”|
“No. I’m only twelve. But I’ve been that for a long time. |

image

Judul Let Me In disini juga menjelaskan tentang legenda vampire Eropa yang tidak bisa masuk kerumah orang tanpa ijin, jika tidak ia akan celaka dengan sendirinya, difilm ini kita bisa melihat bagaimana Abby tiba-tiba berdarah-darah dan kesakitan karena Owen tidak menjawab ketika Abby bertanya bolehkah ia masuk.

Let Me In merupakan remake film Swedia Låt den Rätte Komma in (2008) yang disutradarai Thomas Alfredson dan diadaptasi dari novel berjudul Let The Right One In karangan John Ajvide Lindqvist. Dengan tokoh utamanya Oskar dan Eli (Owen dan Abby dalam versi Amerika). Saya belum menonton versi sebelumnya jadi saya belum bisa membandingkan dan saya juga belum membaca bukunya sampai selesai, tapi saya memiliki kesan yang sama terhadap buku dan filmnya : dark and gloomy!

image