Book Review : Of Bees and Mist – Erick Setiawan

Buku Of Bees and Mist sudah saya simpan dalam rak buku saya sejak 2 tahun lalu, belum sempat-sempat saya baca, forgive me kebanyakan antrian buku dan blum menemukan mood membaca buku tema ‘drama cinta’ tapi pada akhirnya saya jatuh cinta pada buku terjemahan karya Erick Setiawan ini setelah saya mbacanya. Saya tak menyangka kisah drama rumah tangga suami istri, mertua dan ipar ditulis sebaik dan seindah dalam novel Of Bees and Mist ini. Semua karakter dalam buku ini terasa nyata dan familiar dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi metafora-metafora yang tersebar, seperti kabut, lebah, es, kunang-kunang dan lainnya membuat kisah ini makin menarik dan mistis.

image

Adalah Meridia, tokoh utama dalam buku ini, yang tumbuh dan besar dalam keluarga yang tidak harmonis. Kedua orangtuanya tidak saling bicara sejak Meridia dilahirkan, ada hawa dingin dan kabut yang menyelimuti rumah. Ayahnya, Gabriel, tidak mempedulikannya dan ibunya, Ravenna, sering diliputi cadar kealpaan yang membuat dirinya terlupa.

Diumur 16 tahun, Meridia bertemu dengan Daniel disebuah festival, mereka jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Tetapi kehidupan Meridia tidak begitu saja menjadi hangat dan dipenuhi kebahagiaan, itu dikarenakan sikap Eva ibu mertuanya yang .terlalu suka ikut campur, menjelek-jelekkan bahkan memfitnah dan licik. Disinilah cerita menjadi makin pelik, ia harus menghadapi serangan lebah ibu mertuanya dan mengungkap rahasia kabut dingin dirumahnya. Dibuku ini, setiap karakter memiliki porsi yang kuat dalam cerita, tidak hanya Meridia, Ravenna, Eva, Daniel tetapi juga orang-orang disekitar mereka juga ikut memperkaya kisah ini.

Metafora yang saya suka dalam buku ini adalah :
1. Kehadiran kabut kuning, kabut hijau dan kabut biru yang menyelimuti rumah orangtua Meridia di jalan Monarch merupakan presentasi dari kehidupan rumah tangga Gabriel dan Ravenna. Saya mempercayai kabut biru yang membawa pergi Gabriel setiap malam dan membuatnya meninggalkan rumah adalah aroma dari perselingkuhan, kabut kuning merupakan cadar kealpaan yang membuat Ravenna dan Gabriel saling tidak peduli sedangkan untuk kabut hijau, saya masih belum menemukan artinya, mungkin ada yang bisa membantu?
2. Metafora es yg membeku adalah interpretasi kebekuan hati Gabriel terhadap keluarganya, walaupun Ravenna mencoba mencairkan, es itu tetap akan muncul kembali menyelubungi Gabriel..
3. Lebah adalah interprestasi pikiran jahat dan perkataan Eva yang menghasut agar siapa saja mau berpihak dan menuruti perkataannya.. Pernah ngebayangin gak tiap kali denger ibu-ibu yang diliputi aura negatif dan ngomel mlulu itu suaranya mirip suara lebah? Saya sering! Bzzzzzzzzz
4. Hannah, teman misterius Meridia yang datang dan pergi sesukanya sesungguhnya adalah alter ego dari Meridia, diciptakan untuk menemani dan menolong Meridia dalam situasi tertentu.

Erick Setiawan sungguh pintar meramu konflik yang terjadi dalam novel Of Bees and Mist ini, pantas saja jika novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan termasuk dalam longlist penghargaan sastra internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011..

Saya sangat menikmati membaca novel Of Bees and Mist, saya merekomendasikan jika anda ingin membaca kisah drama keluarga yang pelik dan tidak biasa. Oya, saya juga sangat suka cover bukunya, keren!

Judul : Of Bees and Mist (Kabut Masa Lalu)
Penulis : Erick Setiawan
Penerjemah : Fransisca M
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2011
Tebal : 571 halaman.

“Kau telah menghancurkan setiap bagian dari diriku dan aku tak dapat menyatukannya kembali. Aku merasa sakit setiap kali melihatmu, berada didekatmu, dan rasa sakit itu jauh lebih besar daripada rasa cintaku padamu” (hal. 548)

Advertisements

Gak Adil!

Kadang ketika kita mengingat sesuatu hal yang mengecewakan kita ngerasa erggh males banget deh, this world seems unfair! Tapi aku ga mau nyalahin Tuhan, Tuhan gak pernah salah kan?
Jadi siapa yang salah?
Kita sendiri?

Nah, mungkin kita perlu diam sejenak dan merenung.
Daripada ngeluh, marah atau teriak ‘WHY GOD WHY?!’ seakan didunia ini Tuhan cuma ngurusin masalahnya kita doang.
Dan semua maunya kita mesti diturutin sama Tuhan..
I always remember a quote that said : Tuhan gak selalu kasih apa yang kita mau, tapi Tuhan kasih apa yang kita butuhkan.
Jadi ketika Tuhan kasih kita kesusahan, mungkin itu memang yang dibutuhkan kita, agar kita bisa belajar melewati kesusahan tersebut, jadi diharapkan ada sesuatu perubahan yang baik dalam diri kita entah dalam cara berpikir atau bersikap. Tuhan juga gak pengen selalu manjain kita, Tuhan pengen kita belajar untuk kebaikan dalam hidup kita.
Seorang teman baik saya pernah berkata ‘jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu’

Itulah kenapa kita dibuat susah sama Tuhan, supaya kita bisa berjuang dan lebih bersyukur atas apa yang diberikan olehNya.. Alhamdulillah.

Life is beautiful if we think it’s beautiful. It’s in our mind and heart..

Cewe Bonding!

Stereotype cewek cantik di Asia diantaranya adalah kurus, berkulit putih dan juga berambut lurus! Makanya banyak banget cewek-cewek yang mati-matian diet, make krim pemutih (dari skincare sampe bodycare) dan meluruskan rambut! Hell yea, sebagai bagian cewe Asia yang tinggal di Indonesia, aku pun gak luput dari pesona meluruskan rambut soalnya rambut asliku bergelombang gitu..

Di tahun 2003 bersamaan dengan aku lulus SMA, aku pun memberanikan diri ke salon dan di bonding. Bondingnya sendiri menyebalkan, ngendep di salon sampe 4 jam sampe proses meluruskan rambut itu berhasil, ga boleh keramas 3 hari setelah bonding daan kalo bonding baru jadi, tampang pun lecek ky kucing kecebur got, udah gitu harga yang harus dibayar untuk sekali proses meluruskan rambut ini tergolong mahal, kurang lebih 500 ribuan, tapi tetap saja aku melakukan proses penglurusan rambut ini berkali-kali tiap tahunnya sampai tahun 2013 kemarin, wah tepat 10 tahun ya. (5 tahun terakhir aku ga bonding lagi, tapi pake teknik smoothing yang katanya dirambut jadi keliatan lurus alami)

image

Sepuluh tahun rambutku tersiksa terkena proses kimia dan juga karena aku malas ke salon, rambutku pun terabaikan, ga dirawat dengan baik.. makin kesini rambutku makin tipis dan makin rontokan, apalagi aku punya masalah rambut beruban sebelum waktunya, jadi tiap bulan mau gak mau harus dicat agar sosok ‘nenek’nya gak keliatan 😀 karena makin banyaknya masalah, aku pun akhirnya tersadar dan memantapkan diri untuk gak meluruskan rambut lagi. Iya, tahun ini adalah tahun pertama setelah sekian lama, aku akan membiarkan rambutku tumbuh gelombang alami.. aku akan belajar mencintai sebagaimana rambutku adanya, ceilaa, kali ini gak akan dengan memberinya sentuhan proses kimia lagi, tapi dengan merawatnya..

Perawatan rambutku sekarang tergolong simple, yaitu dengan hair mask sebulan sekali atau creambath sendiri dirumah sebulan 2x, pake hair serum/hair oil, dan gak keramas tiap hari. That’s it, and i am done with that super straight hair and now say hello to my natural hair. Tuhan memberikan kita keunikan sendiri-sendiri, and that’s why we have to appreciate and accept it.