The Big Break

Gak sengaja nonton episode pertama The Big Break di Asian Food Channel saat channel-surfing dirumah. My first impression to stick with that such a reality show is Farah Quinn. Gotcha! Oh yes, I adore her and dia menjadi salah satu host diacara ini bersama Chef Alan Orreal.

Tema yang disajikan oleh acara ini terbilang cukup unik. Mereka gak hanya mencari anak-anak berbakat untuk dilatih menjadi chef, tetapi mereka mencari anak-anak dengan latar belakang yang kurang beruntung seperti dari panti asuhan ataupun dari lingkungan menengah kebawah, dimana mereka tampaknya punya mimpi yang terbatas untuk masa depan mereka.

image

Dan di acara the Big Break ini, mereka ditawarkan sesuatu yang besar, melampaui apa yang ada dihadapan mereka, sesuatu untuk menggapai impian mereka.

image

Terpilihlah 12 peserta dari 6 negara di Asia, yaitu Malaysia, Mongolia, Filipina, Thailand, Singapore dan Korea Selatan.

image

image

What I like most from this show is setiap kontestan yang kalah dan harus pulang diberikan beasiswa senilai $2000 untuk melanjutkan pendidikan mereka. Well jumlah uang itu mungkin tidak terlalu besar, tetapi aku yakin efek dari acara ini untuk mereka lebih besar daripada itu. Mereka jadi percaya diri dan semoga tetap bersemangat meraih masa depan! Hap!

Setelah menyaksikan 7 episode The Big Break, aku punya chef jagoan bernama Nico dari Singapura. Dan karena galau khawatir gimana kelanjutan Nico di episode-episode berikutnya, aku memutuskan untuk googling di net to find out who’s the winner of this show. And u know what, I am so glad with the result. Nico is the Big Break’s winner. Yeay *^0^*

image
Nico dan Lawrence, runner-up from Phillipines.

Such a great show anyway!

Advertisements

Penghargaan? Perlukah?

Menyaksikan pemberitaan mengenai polemik penerimaan penghargaan internasional yang akan diterima oleh Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono, membuat saya berpikir dan gatal ingin berkomentar. Bukan komentar politis melainkan murni karena hanya bagian dari warga negara ini yang tentunya bebas bersuara.

Adalah penghargaan World Statesman Award dari yayasan asal Amerika Serikat – Appeal of Conscience Foundation (organisasi yang giat mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan), penghargaan itu diberikan atas keberhasilannya mendorong toleransi umat beragama.

Namun koalisi masyarakat sipil dari negara kita mengajukan protes dan mendorong SBY untuk menolak penghargaan yang akan diberikan pada akhir Mei tersebut. Mengapa? Mereka menilai bahwa Presiden tak pantas menerima penghargaan yang tidak sesuai dengan fakta dilapangan dimana justru marak terjadi tindakan intoleransi terhadap kelompok-kelompok minoritas. Bahkan diadakan petisi online yang digalang lewat http://www.change.org/natoSBY dan sebanyak 7.000 orang lebih telah menandatangani petisi menolak penghargaan kepada Presiden SBY itu.

Ok, dari kacamata orang awam bangsa Indonesia sebenarnya saya bangga akan pemberian penghargaan tersebut. Dilihat dari segi positifnya, masyarakat luar berarti melihat Indonesia sebagai negara dengan tingkat toleransi beragama yang tinggi, tentunya kita menyampingkan beberapa kasus-kasus yang terjadi dan melihat secara global bahwa memang benar selama ini umat beragama di Indonesia hidup berdampingan. Dan bahwa Presiden kita dihargai oleh dimata dunia internasional.

Tetapi.. iya! Ada sanggahan juga 🙂
Jika kita melihat kasus yang masih banyak terjadi, seperti kasus intoleransi umat beragama dan konflik antar etnis di suatu daerah yang terus berulang dari tahun ke tahun, sikap pemerintah yang masih juga belum sanggup memberikan keadilan hukum yang tegas pada kasus-kasus hak asasi manusia. Sebagai rakyat Indonesia, saya merasa penghargaan itu belumlah pantas diterima karena masalah-masalah yang ada saja belum terselesaikan.

image

But I dont know what’s right, dalam satu kejadian tentunya ada pro dan kontra, ada sisi koin yang berbeda, saya hanya berharap bahwa sistem pemerintahan dan hukum yang ada di Indonesia kedepannya dapat berjalan dengan baik sesuai harapan kita. Dan karena Presiden tetap berangkat menerima penghargaan tersebut, saya berharap agar Beliau dapat berkaca dan termotivasi untuk mewujudkan keadaan melalui kebijakan dan hukum yang mengatur sesuai dengan penghargaan yang ia terima, dan tentunya dengan support dari kita semua selaku rakyat Indonesia.

Harapan itu bukan cuma mimpi kan? 🙂

Book Review : Totto-chan – Tetsuko Kuroyanagi

image

Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 272 halaman

Pernah ngebayangin sekolah ditempat yang mengasikkan? Nah pasti kamu envy berat sama sekolahnya Totto-chan yang memiliki gedung berupa gerbong kereta api! Oh pasti seru sekali ya belajar disana!

Totto-chan dikeluarkan dari sekolah sebelumnya karena para guru menganggap Totto-chan sangat mengganggu. Dari membuka tutup laci meja ratusan kali, memanggil pemusik jalanan dari dalam kelas, berbicara dengan burung dan Totto-chan suka berdiri didepan jendela selama pelajaran berlangsung!

Mama lalu mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan senang sekali! Saat pertama kali di Tomoe, Totto-chan berbicara dengan kepala sekolahnya selama 4 jam! Sabar sekali kepala sekolah itu, ia mau mendengarkan ocehan tanpa henti anak kecil seperti Totto-chan.

Totto-chan senang sekali bersekolah di Tomoe Gakuen. Dia bahkan gak sabar menunggu hari esok untuk bersekolah. Dia gak sabar untuk duduk di dalam kelas gerbong kereta bersama teman-temannya.

Sekolah Tomoe Gakuen ini memang berbeda dengan sekolah lain pada umumnya. Di Tomoe, murid-murid bebas memulai harinya dengan memilih pelajaran yang ia sukai, fisika, bahasa, atau menggambar. Saat makan siang di Tomoe pun sangat menyenangkan, ada lagu khusus sebelum makan yang berjudul ‘Yuk kunyah baik-baik’ dan membawa menu “sesuatu dari laut dan sesuatu dari gunung”. Di Tomoe, anak-anak gak diharuskan memakai seragam rapi dan bersih, mereka malah diminta memakai pakaian mereka yang palig kumal dan nyaman. Di Tomoe, ada acara luar kelas yang mengasikkan seperti jalan-jalan dan menikmati alam (murid-murid bahkan gak menyadari sembari jalan mereka juga belajar sains dan mengamatinya secara langsung). Di Tomoe, Totto-chan gak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga bagaimana cara menghargai, rasa hormat, persahabatan, bebas berkreativitas dan menjadi diri sendiri. Yup, tentu saja Totto-chan betah disekolah ini.

Sayangnya, sekolah Tomoe ini berumur pendek, didirikan pada tahun 1937 dan musnah terbakar habis oleh bom pada tahun 1945.

Buku ini merupakan kisah nyata penulisnya. Iya, nama Totto-chan yang menggemaskan itu sebenarnya adalah Tetsuko Kuronayagi. Awalnya setiap orang memanggilnya dengan sebutan Tetsuko-chan. Tapi menurutnya terdengar dengan sebutan Totto-chan, jadi setiap di tanya siapa namanya dia menjawab Totto-chan.

Cerita dalam buku ini sebenarnya merupakan kritik terhadap sistem pendidikan konvensional yang keras di Jepang pada masa itu, dimana setiap anak diharuskan berdisiplin dan memiliki nilai tinggi. Padahal sistem pendidikan yang keras bukanlah jaminan bahwa seorang anak akan berkembang dengan baik. Bahkan, bisa jadi seseorang yang tidak kuat dengan sistem tersebut akan rendah diri, mengalami tekanan mental, dan depresi.

Dalam buku ini, Tetsuko menulis bahwa sekolah konvensional dinilai tidak dapat mengakomodasi semua kecerdasan yang dimiliki siswa. Bahkan, seringkali sekolah konvensional mematikan kecerdasan siswa yang luar biasa. Dalam hal ini, Sekolah Tomoe membiarkan siswanya berkembang sesuai dengan apa yang dimiliki. Selain membuat siswa merasa nyaman, kecerdasan yang mereka miliki dari lahir akan semakin terasah.

Tentu saja, siapa sih yang gak merasa nyaman jika lingkungan belajar kita sangat menyenangkan ditambah dukungan dari para pendidik yang dengan sabar dan tulus membimbing para muridnya? Tempat yang dapat mengembangkan diri para muridnya, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga sikap dan kreatifitas mereka.

Seperti yang ia tulis di bukunya : Anak kecil seperti Totto-chan, jika diberi pengaruh yang tepat oleh orang dewasa, akan bisa menjadi pribadi yang pandai menyesuaikan diri dengan orang lain.

Anak kecil itu ibarat benih, bagaimana mereka akan tumbuh besar itu tergantung dari bagaimana kita merawat dan menyemainya.

A must read book untuk para pendidik dan orangtua.

Read A Lot. Share A Lot!

If you want to be a writer you must do two things above all: Read a lot, write a lot. – Stephen King

Pertengahan tahun lalu, minat baca aku meningkat drastis (lagi). Iya, sebagai seorang pecinta buku, aku memiliki masa vakum ga-baca-buku-sama-sekali and I missed lotsa good books! Untunglah aku segera tersadar dan kembali bercinta dengan buku-bukuku.. 😀

Dengan semakin banyak membaca, jenis bacaan ku pun semakin luas. Gak melulu novel percintaan (bahkan aku agak pensiun baca tentang cinta, kinda boring), sebaliknya aku jadi makin tertarik dengan buku-buku pengetahuan dan sejarah, atau novel yang mencampurkan antara fakta dan fiksi, seru!

I love books so much! Book is my passion

image

Ini fotoku waktu ikutan kuis #WorldBookDay di akun twitter @ikanatassa dan gak menang! 😥

Buku-buku yang kubaca sejak awal tahun 2013

image

image

image

image

Dan ini ruang buku kesayanganku, menatap buku-buku yang tersusun rapi saja udah bikin bahagia! Haha *nerd

image

Book Review : Antologi Cinta

Pada bulan Oktober 2012, Klub Buku Indonesia mengadakan project untuk menerbitkan buku kumpulan cerpen yang materinya berasal dari kiriman #SahabatKlubBuku. Dari ratusan naskah yang masuk, terpilihlah 10 cerpen karya #SahabatKlubBuku dan 4 penulis tamu lainnya.

Seperti apa sih isi buku Antologi Cinta ‘hanya cinta yang menguatkan kita’ ini? Yuk kita buka lembaran kisahnya 🙂

Cerpen pertama adalah Alya karya Sefryana Khairil. Kak Sefry adalah penulis yang sudah memiliki beberapa judul buku yang telah diterbitkan, jadi bagi para penikmat buku tentunya sudah kenal dengan nama Beliau.

Alya adalah satu nama yang tak pernah terlupakan oleh Rizki. Ia sudah mengenal Alya sedari kecil. Bahkan ketika jarak memisahkannya dari Alya, Rizki selalu ingin kembali ke Indonesia, karena ditempat inilah Alya berada. Waktu demi waktu berlalu, kesempatan akhirnya membawa Rizki kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Alya. Rizki memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya yang sudah lama terpendam, hmm apakah Alya merasakan yang sama?

“Do you know my feeling for you has never changed since the first time we met?”

Cerpen kedua adalah karya #SahabatKlubBuku @noichil yang berjudul Cinta yang Tak Pernah Menua. Cerpen inilah yang sinopsisnya tertera dibelakang buku. Mengenai pasangan suami istri dan kisah cintanya yang berjalan seiring usia.

“Menjalani hidup dan menua bersama belahan jiwa adalah pilihan. Aku bahagia telah mencintaimu setiap hari. Sampai mati”

Cerpen ketiga berjudul Di Balik Sepeda Ontel Klasik karya #SahabatKlubBuku @itamztam. Bercerita tentang seorang gadis bernama Lea yang penasaran dengan seorang pemuda bernama Arya. Arya begitu unik dan gigih. Terlebih sepeda ontelnya yang selalu menemaninya berjuang menuntut ilmu. Apa yang membuat sepeda ontel itu begitu spesial bagi seorang Arya?

“Sejak pertama kali aku lihat sepeda itu, aku langsung jatuh cinta. Ada semangat besar dibalik keantikan dan keklasikkannya”

Cerpen keempat diisi oleh Khrisna Pabichara @1bichara, seorang penulis yang dikenal dengan buku trilogi Dahlan. Dalam buku ini, ia menyumbangkan karya berjudul Kedai Ceu Enah. Cerita ini merupakan salah satu cerpen favorit min dibuku ini, karena jalan ceritanya yang menarik, alur dan twist yang keren serta ending yang gak bisa kita duga. Bercerita tentang Ceu Enah dan kedai kopinya, dimana sehari-hari ia biasa melayani para pelanggannya. Dibalik kehidupannya yang begitu biasa, tersimpan masa lalu yang kelam dalam hidup Ceu Enah.

“Begitulah Tuhan. Aku tidak sedang mengeluh. Tidak juga mengaku bersalah, apalagi merasa berdosa.”

Bagaimana dengan 10 cerpen lainnya? Tentu gak bisa dilewatkan begitu saja, karena memiliki keunikan tema cintanya sendiri-sendiri. Cinta yang gak berbatas pada hubungan pacaran, tetapi juga keluarga dan sahabat. Gak hanya manis tapi juga pahitnya cinta.

Oh ya, aku suka banget dengan covernya, sweet dan lucu.

image

Judul : Antologi Cinta
Penulis : Klub Buku Indonesia, Khrisna Pabichara, Sefryana Khairil, Adenita, Loryta Chai, dkk
Penerbit : Bypass
Tebal : 217 halaman